Singkong / ketela pohon / ubi kayu Sumber gambar: http://ragaminfocantika.blogspot.co.id/ |
Singkong (Manihot utilissima) adalah perdu tahunan daerah tropis dan subtropis dari suku Euphorbiaceae (http://id.wikipedia.org/wiki/Ketela_pohon). Tanaman ini dimanfaatkan umbi dan daunnya sebagai bahan makanan. Singkong sering disebut juga dengan ketela pohon atau ubi kayu. Umbi dari singkong banyak mengandung glukosa sehingga dapat dijadikan makanan pengganti nasi. Makan umbi singkong mentah-mentah (tentunya sudah dicuci bersih) bisa mengatasi sakit maag. Umbi singkong berwarna putih bersih, namun bila teroksidasi akan menghasilkan warna biru yang merupakan racun sianida yang mematikan. Umbi yang ada warna birunya biasanya berasa pahit. Selain umbi, daun singkong yang masih muda juga bisa dibuat sayuran atau lalapan. Kandungan zat besi dalam daun ini cukup tinggi. Jadi jika diantara kita ada yang mengidap anemia, makanlah daun singkong ini.
Seperti yang sudah saya ceritakan tadi, kalau singkong adalah tanaman pertama yang saya tanam. Dulu ketika awal kelas 3 SD, ayah ikut menggarap pekarangan belakang rumah yang tidak terurus. beliau menanaminya dengan berbagai tanaman, mulai dari sengon, pandan, lengkuas, jahe, kencur, kunyit, cabai, tomat, talas, dan singkong. Ya.. pekarangan itu memang cukup luas untuk dijadikan kebun. Tadinya ayah hanya memperbolehkan anak-anaknya ikut memanen hasil kebun, tetapi ketika saya kelas 3 SD, ayah mulai mengajarkan bagaimana caranya menanam tanaman, yang pertama kali adalah cara menanam singkong.
Hmmm.. cukup mudah menurut saya, pertama, batang singkong dipotong-potong sepanjang 15-20 cm (kira-kira saja) dengan salah satu ujungnya dibuat miring. Lalu batang singkong yang sudah dipotong-potong itu ditancapkan ke tanah kebun yang sudah digemburkan dan dibuat sengkedan. Kemudian sirami sekitar batang singkong itu dengan air secukupnya. Ya.. ayah mengajarkan langsung cara perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif, yaitu stek pada saya. Sehingga saya sudah tidak asing lagi dengan stek waktu diajarkan di kelas 6 SD. Hmm.. menyenangkan sekali waktu itu, kami tidak hanya menanam, tetapi juga ikut menyirami dan menyiangi gulmanya, serta pada saat panen, kami ikut mengeluarkan tenaga kami yang tidak seberapa itu untuk mencabut singkong. Aaarrrrggghhh... rasanya sudah sekuat tenaga tetapi kok tidak tercabut-cabut ya.. hehehehe. Alhamdulillah panen singkongnya melimpah. Waktu itu saya tidak tahu apakah singkong itu dijual atau dibagikan ke tetangga, yang saya tahu, kami sekeluarga selalu makan singkong setelah panen, hehehe...
Akhir kelas 3SD, saya mengalami sakit yang tidak biasa, dan saya juga tidak tahu jenis penyakitnya. Saya tiba-tiba lumpuh, kaki dan badan saya tidak bisa digerakkan, kalau bergerak sedikit saja, walau hanya menengok, maka dunia akan terasa nyata berputar-putar di depan mata saya. Berbagai jenis obat kimia sudah masuk ke dalam tubuh saya selama 4 minggu lebih, tetapi tidak ada perubahan, hingga Mama dan Ayah memutuskan untuk mengoperasi saya di rumah sakit. Deg-degan ingin menangis rasanya. Saya ditandu oleh beberapa orang mau menuju ke ambulans, sampai tiba-tiba ada teriakan tidak memperbolehkan dari Mbah Putri saya, "Cucu saya mau dibawa kemana? Cucu saya tidak boleh dioperasi. Ini saya bawa dukun pijat. Cucu saya dipijat saja, pasti sembuh."
Dan semua orang tunduk dengan Mbah Putri saya, saya pun batal dibawa ke rumah sakit, legaaaa sekali rasanya, terimakasih Mbah.
Setelah itu saya menerima terapi pijat dari Bapak Dukun Pijat itu. Selain dipijat, saya juga disarankan untuk meminum jamu ramuan beliau. Beliau hanya memberikan resep, cara membuat, dan aturan minumnya pada orang tua saya, dan orang tua saya sendiri yang membuatnya. Saya masih ingat beberapa bahannya, yaitu tepung beras, tepung tapioka, kunyit, sirih, gula jawa direbus kemudian disaring dan air saringannya ditunggu sampai hangat-hangat kuku lalu diminum sehari 3 kali.
Setelah seminggu pemijatan dan minum jamu, saya mulai bisa duduk, lalu seminggu kemudian merangkak, seminggu kemudiannya lagi mulai berjalan merambat-rambat di dinding, lalu sembuh total seminggu kemudiannya lagi, jadi total 4 minggu perawatan. Hmmm... benar-benar seperti balita yang baru belajar berjalan lagi. Ahhh... itu adalah pengalaman hidup yang tidak bisa saya lupakan, bahkan saya masih ingat rasa pusing itu, rasa jamu, dan masih terlihat jelas tangisan Mama, serta ucapan almarhumah Mbah Putri saya yang tidak rela cucunya dioperasi. Saya menjadi tahu betapa sayangnya keluarga saya dengan saya, betapa sabarnya mereka, terimakasih, maaf saya tidak dapat membalas semuanya tapi saya akan terus berusaha. Namun, sampai sekarang, saya tidak tahu penyebab dan nama penyakit saya itu.
![]() |
Singkong Goreng Sumber gambar: https://missnyingnying.wordpress.com/ |
Peuyeum Sumber gambar: http://pusatoleh2babakan.blogspot.co.id/ |
![]() |
Getuk Sumber gambar: http://id.resepmasaktradisional.com/ |
Itulah kenapa saya tidak malu disebut sebagai Anak Singkong. ^_^
Tulisan ini diikutsertakan dalam “Give Away Aku dan Pohon”
